27
Feb

Iklan Malaysia di Indonesia ?

Posted in Coretan  by darudoank

Sebenarnya sudah lama saya memperhatikan ’sesuatu yang aneh’ di perempatan kuningan, tapi baru sempat memotretnya sore ini, itupun dengan handphone. Apa itu yang aneh ? Tidak lain tidak bukan … billboard atau bahasa awamnya poster ukuran raksasa yang biasa kita temui dipinggir-pinggir jalan.

Tapi kan sudah biasa ? Betul … tapi yang membuat menjadi luar biasa (baca: menyebalkan) adalah billboard itu memuat iklan pariwisata Malaysia dengan tagline-nya ‘Malaysia Trully Asia”. Sialan !!!!

Bukannya saya mem-provokasi orang lain untuk membenci Malaysia … bukan itu. Tapi masih ingat dong dengan kasus batik, reog dan beberapa kesenian dan budaya asli Indonesia yang di klaim Malaysia sebagai miliknya. Memang bermacam reaksi segera bermunculan, namun sayangnya reaksi itu hanya muncul dari lapisan masyarakat, sementara reaksi pemerintah ??? Hmmm … we all know about that :(

Belum juga masalah batik dan lain-lainnya selesai dengan tuntas, belum juga Malaysia mengakui bahwa kesenian dan budaya tersebut adalah asli milik Indonesia, lah kok sekarang mereka memasang iklan pariwisata Malaysia di Jakarta ??? Dan bim salabim …. yang lebih aneh lagi, di billboard itu terpampang dengan jelas gambar bungan Rafflesia Arnoldi.

Lha kok bisa ??? Padahal bunga Raflesi Arnoldi itu hanya bisa ditemukan di Bengkulu, terus kenapa ada di iklan Malaysia ??? Lalu apa reaksi kita ?? NIHIL !!!!! Mungkin yang dipikirkan hanya pendapatan daerah dari pajak reklame, dengan mengesampingkan ‘kekayaan alam’ Indonesia.

Dan kalau Indonesia semakin dianggap rendah dan enteng oleh Malaysia yang notabene ‘lebih kecil’ dari Indonesia, lalu salah siapa ? Salah Malaysia ? Jawabannya ya sudah pasti … BUKAN salah mereka, tapi salah kita sendiri.

Hmmm … Sipadan & Ligitan, Batik, Keris, Reog dan kasus lainnya sepertinya belum bisa membuat mata bangsa ini untuk lebih melek terhadap keadaan.

Kalau sudah begitu ….. Apa kabar Indonesia ????

Sent from Indosat BlackBerry

17
Feb

Fenomena Ponari

Posted in Secangkir Kopi  by darudoank

Nama Ponari mencuat sebagai dukun cilik dari Jombang, sesaat setelah dia ‘berhasil’ menyembuhkan adiknya yang sakit dengan batu yang dia peroleh di saat petir menyambar. Setelah itu, setiap hari ratusan bahkan ribuan orang mengantri untuk mencari kesembuhan atas penyakit mereka. Tak ayal, Ponari pun disibukkan dengan ritual penyembuhan yang dilakukan dengan cara mencelupkan batu petir yang dipegangnya kedalam air yang dibawa pasien.

Beberapa hari kemudian reaksi datang dari beberapa pihak. Para ulama mengingatkan supaya orang-orang jangan sampai terjebak pada sesuatu yang berujung pada tindakan musyrik. Komnas Perlindungan Anak pun mengingatkan supaya Ponari jangan diekploitasi secara berlebihan dan meminta Pemerintah Daerah untuk memfasilitasi pengobatan dengan menyediakan bak penampungan sehingga Ponari tidak harus selalu menemui pasien, karena biar bagaimanapun Ponari masih anak-anak.

***
Hmmm … saya pribadi sih tidak akan membahas masalah syirik, perlindungan anak, eksploitasi atau masalah benar tidaknya berita yang menyebutkan batu petir mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Saya sebenarnya justru miris ketika melihat di TV, bagaimana para pasien itu mengantri berjam-jam bahkan hingga merenggut korban jiwa. Kalau sudah demikian, siapa yang bisa disalahkan atau dimintai pertanggungjawaban ?

Bahkan karena saking ‘frustasi’ nya, mereka mulai melakukan sesuatu yang menurut saya sudah tidak bisa di nalar atau di logika. Air comberan dari kamar mandi rumah Ponari pun jadi sasaran untuk diminum, bahkan lumpurnya digunakan untuk membasuh muka dan bagian badan yang lain. Duh … (maaf), sangat menjijikkan.

Fenomena seperti itu sepertinya sudah sering terjadi di Indonesia. Ketika ada kabar mengenai benda/tempat keramat dengan kemampuan tertentu, orang langsung berduyun-duyun untuk sekedar melihat atau mengingikan ‘khasiat’ nya secara langsung.

Hmm …. terlepas dari segala bentuk hukum, entah itu hukum agama, sosial dan peradilan, serta benar tidaknya khasiat suatu benda yang dikeramatkan, saya justru melihat perilaku bangsa ini yang dengan gampangnya ‘men-dewa-kan’ sesuatu/seseorang, adalah suatu bentuk refleksi dari keputus asaan mayoritas bangsa ini.

Keputus asaan akan mahalnya harga obat, biaya rumah sakit dan dokter sehingga tidak ada jalan lain selain mencari kesembuhan atas suatu penyakit dengan cara alternatif. Bahkan tak jarang, cara-cara yang ditempuh pun seringkali sudah di luar nalar.

Lalu … (sekali lagi) siapa yang harus bertanggung jawab dengan keadaan seperti ini ?

 

Powered by Indosat BlackBerry

Tags: ,

13
Feb

Modifikasi salah kaprah

Posted in Coretan  by darudoank

modifikasi salah kaprahModifikasi kendaraan mobil atau motor itu sah-sah saja, karena toh yang dikuras duitnya adalah ya si empunya kendaraan itu. Tapi se-ekstrim apapun modifikasinya sebaiknya tidak menyepelekan hal-hal kecil yang berakibat fatal, khususnya untuk masalah kenyamanan dan keamanan di jalan raya.

Salah satu contoh hal kecil yang sering dilupakan orang dan dianggap sepele adalah masalah lampu. Entah itu lampu rem, lampu sign atau lampu depan (head lamp). Banyak yang mengganti head lamp-nya dengan lampu yang sangat menyilaukan, yang tentunya ini sangat berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Menurut penelitian, ketika mata kita menerima cahaya yang berlebihan (menyilaukan) maka mata kita akan buta sesaat (kurang lebih 3 detik). Nah … bisa dibayangkan, apa yang akan terjadi ketika kecepatan kendaraan adalah 100 km/jam. Berapa meter kendaraan melaju tanpa ‘mata’ ?

Tak sedikit pula yang mengganti lampu rem dan lampu sign dengan warna putih. Ketika dalam kondisi gelap, lampu rem putih yang menyala terang akan menyilaukan mata pengemudi belakangnya. Dan itu saya alami ketika suasana karena hujan deras, jalan licin, mobil di depan saya mengerem mendadak plus memancarkan cahaya putih yang menyilaukan. Alhamdulillah, Tuhan masih sayang sama saya dan pengemudi mobil di depan saya sehingga tidak terjadi apa-apa. Keadaan yang tidak lebih baik juga akan terjadi jika dalam keadaan terang. Lampu rem dan sign warna putih tidak akan terlihat dengan jelas. Jadi … dalam keadaan apapun, bahaya tetap mengancam dalam gelap maupun terang.

Lalu kenapa warna lampu yang digunakan di kendaraan harus tetap standar?

Penentuan warna warna tersebut adalah berdasarkan pada spektrum optik masing-masing warna, dimana spektrum dari warna masing-masing merah-kuning adalah yang terendah dibanding dengan warna-warna yang lain, Sehingga dengan demikian, kemampuan cahaya berwarna merah-kuning untuk menembus sesuatu yang memantulkan warna putih adalah lebih tinggi. (antara merah dan kuning sebenarnya ada warna jingga, namun dalam spektrum batas warna ini, kadang jingga susah dibedakan menjadi merah atau kuning oleh mata manusia)

Sehingga dengan kemampuan warna merah yang lebih tinggi dari kuning, dan kuning lebih tinggi dari hijau, dan hijau lebih tinggi dari biru dst, dalam menembus cahaya putih (cahaya alam, asumsikan dalam kabut) maka jelas di tentukanlah warna merah-kuning-hijau sebagai warna standart untuk lalu lintas (kecuali lampu warna hijau yang tidak diimplementasikan di kendaraan).

Dan khusus untuk lampu sign yang berkedip, tentunya hal itu bubih dan tanpa sebab. Selain karena alasan diatas, cahaya yang berkedip akan lebih cepat merangsang retina mata sehingga orang yang melihat sumber cahaya itu akan lebih fokus.

Dan tentang masalah pemilihan warna merah untuk lampu rem (berhenti) dan kuning (untuk belok), itu hanyalah kesepakatan masyarakat saja. Yang jelas, pemilihan warna merah dan kuning serta hijau telah melalui penelitian yang akurat.

So … kenapa kita mesti membahayakan diri kita sendiri dan orang lain hanya demi sebuah gaya ????

 

Powered by Indosat BlackBerry®

15
Jan

Harga BBM turun (lagi)

Posted in Secangkir Kopi  by darudoank

Pemerintahan SBY kembali ‘mengukir’ sejarah. 3 kali menurunkan harga BBM dalam kurun waktu kurang dari 6 bulan. Sebuah kebijaksanaan pemerintah yang patut diacungi jempol dan disyukuri.

Memang, kebijaksanaan itu tidak terlepas dari turunnya harga minyak dunia. Tetapi perlu diingat, keputusan pemerintah RI untuk menurunkan harga BBM yang sudah naik adalah sebuah anomali. Bukankah biasanya, harga yang sudah naik … enggan turun lagi ?

Namun di tengah ‘keberanian’ pemerintahan SBY, masih ada saja beberapa pihak yang tetap ‘mencari-cari celah’ untuk menyudutkan. Salah satunya, ada wacana yang menyebutkan bahwa .. ‘SBY tidak serius menurunkan harga BBM, karena idealnya harga bensin adalah Rp 3.300, bukan Rp 4.500″.

Mungkin betul, idealnya harga untuk bensin adalah Rp 3.300. Tapi tentu saja segala bentuk keputusan yang akan diambil harus dipertimbangkan dengan matang. Harus dilihat keseimbangan neraca APBN, faktor ini, faktor itu dan hal-hal lain yang patut dipertimbangkan. Lha kalau kita selalu mencari yang paling ideal, suatu permasalahan tidak akan pernah selesai.

Yang jelas, dengan turunnya harga BBM yang ketiga ini, tidak (belum) diikuti dengan turunnya harga-harga yang lain. Harga kebutuhan pokok dan tarif transportasi masih bertengger diatas dengan angkuhnya. Pemerintahan SBY sudah seharusnya juga menurunkan harga/tarif yang berhubungan dengan turunnya harga BBM. Karena jika hanya harga BBM yang diturunkan, sementara harga yang lain masih tinggi … rasanya tidak terlalu berimbas pada kehidupan ekonomi masyarakat.

Powered by Indosat BlackBerry®

15
Jan

Boikot !

Posted in Secangkir Kopi  by darudoank

Serangan membabi buta Israel telah menimbulkan beragam reaksi. Demo di hampir semua belahan dunia, aksi solidaritas pengumpulan dana, mengirimkan relawan medis, wacana pengiriman pasukan ‘jihad’ oleh beberapa ormas di Indonesia hingga resolusi PBB.

Seruan untuk memboikot KFC, Mc’D, dan Carefour pun juga mulai semarak. SMS, email, YM, dan blog menjadi sarana efektif dan efisien untuk menyebarkan ‘virus boikot’ tsb, dengan dalih bahwa semua perusahaan itu berasal dari Amerika dan sekutunya yang notabene adalah kawan akrab Israel.

‘Boikot KFC, Mc’D dan carefour, karena mereka penyandang dana setia bagi Israel’, begitulah garis besar isi dari ajakan untuk melakukan boikot.

Mungkin ada benarnya informasi yang disampaikan, bahwa perusahaan-perusahaan tersebut adalah salah satu sumber dana bagi Israel. Tapi alangkah baiknya, jika informasi yang disampaikan disertai bukti-bukti yang akurat.

Well … Bukannya saya tidak ber-empati terhadap penderitaan rakyat Palestina, tetapi saya merasa bahwa aksi boikot tidak akan menyelesaikan masalah Palestina (setidaknya dalam kondisi ekonomi bangsa seperti sekarang ini).

Seperti kita ketahui, dan kita tidak bisa memungkiri bahwa KFC, Mc’D, carefour dan perusahaan lain yang ada hubungannya dengan amerika dan sekutunya, turut membangun perekonomian dengan menyerap ribuan tenaga kerja yang ada di Indonesia.

Let say … Kita semua sukses memboikot dan akhirnya mereka collaps, lalu ribuan pekerja harus kehilangan pekerjaannya, otomatis angka pengangguran di Indonesia semakin tinggi. Beban pemerintahpun semakin berat. Belum lagi jika kita kalkulasikan dengan jumlah orang yang menjadi tanggungan para pengangguran baru itu. Can you imagine … What will happen with this lovely country ????

Efek domino seperti inilah yang seharusnya juga dipertimbangkan, sebelum kita meneriakkan kata ‘BOIKOT!!!’.

Saya yakin, masih banyak cara untuk membantu palestina. Contoh sederhana saja, daripada Anda mem-forward2 sms ajakan boikot, mendingan duit buat beli pulsa itu dikumpulkan dan disumbangkan. Lebih make sense kan?

Well … Ini hanyalah pendapat pribadi saya. Diterima atau tidak … Itu tergantung pada pemikiran anda masing-masing.

Powered by Indosat BlackBerry®